visitors

Flag Counter
BAIHAQI FUADI. Diberdayakan oleh Blogger.

MERANCANG SEBUAH PRODUK


MERENCANAKAN KURSI

Membuat desain sebuah furniture tidak hanya dibutuhkan imajinasi dalam hal warna, bentuk dan garis-garis kombinasi yang cantik. Di samping hal tersebut dan merupakan sebuah hal yang sangat penting adalah pengetahuan tentang ukuran standar sebuah furniture.

Anda bisa saja merencanakan sebuah set almari dapur yang cantik menyesuaikan susunan interior ruang anda, tapi kurang logis jika anda tidak bisa menggunakannya dengan nyaman karena tinggi meja tidak sesuai dengan 'ergonomis' tubuh anda. Atau sebuah kursi makan yang terlalu pendek juga membuat acara makan malam menjadi kurang menyenangkan.

Petunjuk Dasar Me(n)desain Kursi
Standar ukuran yang diambil desainer adalah berasal dari rata-rata 90% ukuran tubuh populasi manusia. Berikut ini beberapa 'guidelines' bagi anda membuat sebuah desain kursi.

Pengguna harus bisa dengan mudah duduk atau beranjak dari kursi tanpa masalah.
Apabila terdapat armrest/tanganan, ketinggian armrest harus sedemikian rupa sehingga pengguna tidak perlu menaikkan bahunya pada saat meletakkan tangannya pada armrest tersebut.
Ketinggian armrest dari LANTAI sebaiknya sesuai dengan ruang bebas di bawah meja, sehingga kursi bisa dimasukkan ke bawah meja ketika tidak dipergunakan.
SEMUA kaki kursi harus menyentuh lantai untuk kestabilan.
Jarak dudukan kursi dari belakang ke depan (kedalaman dudukan) sebaiknya tidak lebih panjang dari jarak bagian belakang lutut ke punggung pengguna. Jika terlalu dalam akan membuat punggung pengguna sakit karena tidak nyaman, namun jika terlalu pendek akan membuat kursi menjadi tidak stabil dan mudah jatuh.
Lebar dudukan bagian depan harus lebih lebar sekitar 5-7 cm untuk ruang kaki.
Untuk kursi santai, DUDUKAN kursi perlu dibuat miring dengan sudut sekitar 5° - 8°, kursi kerja biasanya memiliki sudut lebih lurus.
Begitu pula dengan SANDARAN kursi, sudut kemiringan sekitar 10° hingga 15°.
Ketinggian sandaran kursi es normal y ideal adalah 30 - 40 cm (12" - 16"). Untuk mencapai idealisme desain, kursi makan biasanya melebihi standar tersebut namun masih tetap mempertahankan sudut kemiringan sandaran.


Ukuran Standar
Berikut ini standar ukuran kursi untuk kategori dewasa dengan ukuran normal.
1. Dudukan
Lebar: 40 - 50 cm (16"-20")
Dalam: 37,5 - 45 cm (15"-18")
Tinggi: 40 - 45 cm (16"-18")
Kemiringan dari depan ke belakang: 5° - 8°

2. Armrest (Sandaran tangan)
Tinggi dari DUDUKAN: 17,5 - 22,5 cm (7"-9")
Panjang dari pangkal hingga ujung: minimum 20 cm (8")
Lebar: rata-rata 5 cm (2")
Kemiringan dari depan: 5 - 7,5 cm (2"-3")

3. Sandaran
Tinggi: 30 - 40 cm (12"-16") dari atas DUDUKAN
Sudut Kemiringan : 0°-5° (formal); 10°-15° (casual)

MESIN PENGERGAJIAN



MESIN PENGERGAJIAN KAYU

Mesin yang umum digunakan untuk membelah kayu log oleh beberapa pabrik furniture dikenal dengan mesin gergaji pita. Disebut gergaji pita karena bilah gergaji terbentuk dari lembaran baja tipis yang panjang dan  isambung menjadi bentuk lingkaran seperti tali pita.  engan mesin ini bisa dilakukan pembelahan pada kayu log dengan ukuran ∅ sebesar mungkin.

Terdapat 2 tipe dengan posisi pembelahan yang berbeda, yaitu horisontal dan vertikal. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tipe vertikal paling banyak digunakan dan berdasarkan pengalaman dari beberapa pabrik, tipe ini lebih murah dan lebih mudah dalam hal operasionalnya.

Gergaji pita vertikal ini tidak bergerak, hanya kayu log yang diletakkan pada dudukannya yang bergerak. Pada tipe horisontal, log diikat kuat pada dudukannya dan mesin gergaji pita yang bergerak membelah log.


Tipe vertikal memberikan kemungkinan metode pembelahan lebih banyak daripada tipe horisontal, mengapa? Tipe horisontal memiliki ketebalan hasil penggergajian yang terbatas. Karena apabila terlalu tebalakan beresiko bilah gergaji terjepit papan belahan. Sedangkan posisi vertikal tidak ada resiko tersebut.

Setelah Pembelahan
Pada setiap area sawmill, pasti terdapat mesin gergaji belah (círculo) minimal satu pada 2-3 mesin gergaji pita. Apabila anda memiliki sawmill tapi tidak menempatkan mesin circle saw di dalamnya, sebaiknya dipertimbangkan untuk memiliki minimal satu mesin.


Mesin ini sangat efektif dan membantu proses kerja lebih cepat terutama pada pembelahan log yang besar. Papan-papan lebar dari pembelahan bisa segera dibelah untuk ukuran lebih kecil menggunakan mesin sierra circular dan segera diletakkan sesuai ukuran yang dibutuhkan. Daripada mengeringkan papan yang masih lebar, akan lebih cepat apabila papan dibelah lagi dengan ukuran yang lebih kecil. Hali ini memang bisa mengurangi kapasitas muat ruang KD, tapi hasilnya akan lebih baik untuk kualitas kayu.

KONVERSI LOG TERHADAP KAYU


Konversi Kayu Log terhadap Kayu Gergajian

Seringkali ketika kita berbicara tentang volume kayu, kita harus menyamakan dulu 'bahasa' yang digunakan. Apakah volume tersebut untuk kayu gergajian atau kayu log. Mengapa? karena volume 100 m³ log bukan berarti 100 m³ kayu gergajian, namun bisa berarti 50, 60 atau 70 m³ kayu gergajian. Perbedaan tersebut pun ditentukan oleh metode penggergajian, bentuk penampang kayu log dan ukuran gergajian yang diinginkan.
Istilah yang sering digunakan ada bermacam-macam yaitu recovery, rendemen, waste dan lain sebagainya. Pada intinya semua istilah dan perhitungan tersebut untuk 'menghitung berapa m3 log yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap meter kubik kayu gergajian?'

Volume Log
Volume log yang dihitung berdasarkan perkalian luas penampangnya terhadap panjang log ketika dibelah menjadi beberapa lembar papan atau balok, total volume log tersebut akan terpecah menjadi beberapa bagian dari yang terbesar adalah balok, lalu serpihan kayu dan serbuk gergaji.Rumus volume kayu log = luas penampang x panjang log.



Contoh:

Diameter (Ø) sebuah log kayu adalah 40cm (0,40 mtr) dengan panjang 2,5 meter.
Volume logs = 3,14 x (0,20 cm x 0,20 m) x 2,5 mtr
Volume logs = 3,14 x 0,040 x 2,5 mtr = 0,314 m³.
Logs tersebut dibelah menjadi beberapa batang kayu balok sehingga menghasilkan 11 batang kayu yang efektif bisa dipakai sebagai bahan baku furniture (lihat gambar) dengan rincian sebagai berikut:
18 x 3,5 x 250 cm (7 batang) = 0,110 m³
20 x 4 x 250 cm (1 batang) = 0.02 m³
30 x 4 x 250 cm (1 batang) = 0,03 m³
12 x 4 x 250 cm (2 batang) = 0,024 m³
Total Volume kayu gergajian = 0,184 m³
Dari hasil perhitungan di atas anda bisa melihat bahwa hanya 0,184 m³ yang menjadi kayu gergajian sehingga kalau kita konversikan menjadi:
volume kayu gergajian : vol kayu logs, yaitu:
0,184 : 0,314 = 0,585 = 58,5 %

Berarti dari 100% volume kayu log, hanya 58,5% yang menjadi kayu gergajian. Sisanya sebesar 41,5% telah menjadi serpihan kayu dan serbuk gergaji. Prosentase ini tidaklah nilai yang mutlak karena akan bisa berubah lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari berbagai faktor misalnya jenis kayu, bentuk penampang kayu dan metode penggergajian.

PENAMPANG POHON



Bagian penampang pohon (kayu bulat)

Pernahkah anda mendengar bahwa dengan melihat garis yang melingkar pada bagian penampang kayu bulat (gelondong) kita bisa memperkirakan umur pohon tersebut? Apabila anda mendengar jawaban 'Ya', itu adalah benar. Dari bagian penampang kayu kita bisa memperkirakan umur kayu tersebut. namun sebelum kita bahas hal tersebut, sebaiknya kita pelajari beberapa detail bagian penampang kayu.

1. Pith (hati kayu) : menjadi bagian paling lunak pada kayu tetapi sangat kecil ukurannya dibanding diameter kayu. bagian ini harus selalu dihindari dan dibuang.

2. Heartwood (kayu teras): bagian utama kayu yang dibutuhkan. Keras, berwarna gelap dan lebih berat. Proporsinya juga paling besar (m3). Detail penjelasan ada di sini.

3. Sapwood (kayu gubal): berada pada lapisan luar, berwarna lebih terang dan lebih mudah menyusut.

4. Cambium layer (lapisan kambium): lapisan yang berisi zat-zat makanan untuk perkembangan pohon.

5. Bast : pengirim makanan untuk diolah oleh daun melalui fotosintesis.

6. Bark (kulit pohon): melindungi batang pohon.

7. Annular ring (lingkaran tahun): garis-garis yang melingkar pada pohon yang menunjukkan umur pohon. Lingkaran terbentuk setiap tahun berdasarkan musim di mana pohon itu tumbuh.

8. Spring growth: lapisan yang terbentuk pada waktu musim gugur. Biasanya lebih tipis karena pada musim ini pertumbuhan pohon lebih lambat.

9. Autumn growth: lapisan yang terbentuk di waktu musim semi. memiliki ketebalan lebih karena pohon tumbuh lebih cepat ketika musim ini dengan adanya proses pengolahan makanan untuk pohon yang lebih banyak.

10. Medularry rays: garis yang melintang dari pusat kayu hingga bagian luar sebagai medio penyimpan makanan bagi pohon. bagian ini bisa menjadi dekorasi ketika kita melakukan pemotongan kayu bulat secara radial.

KONVERSI GERGAJIAN



Konversi Kayu Gergajian terhadap Ukuran Jadi


Jika anda ingin membuat beberapa buah kusen dan pintu untuk rumah baru, berapa kubik kayu balok yang perlu anda beli? Atau ketika akan memproduksi beberapa buah kursi makan, berapa kubik kayu gergajian yang perlu disediakan?

Sama halnya dengan konversi kayu log terhadap kayu gergajian, tidak 100% kayu yang kita beli bisa diolah menjadi barang ataupun ukuran jadi.

Waste atau kayu terbuang akan selalu ada pada sebuah proses produksi, namun bagaimana kita mengolah kayu dengan bijak sehingga waste tersebut bisa diminimalkan adalah sebuah prestasi tersendiri terutama dalam rangka efisiensi produksi. Secara global biaya produksi untuk material utama kayu sebesar 60-75% dari keseluruhan cost, oleh karena itu dengan menghemat pemakaian bahan dasar kayu secara baik akan memberikan kita keuntungan yang cukup besar.

Kita lihat ilustrasi berikut pada gambar:
Balok pertama (panjang 1 meter) pada saat sebelum diserut/diketam berukuran 35 x 65mm (volume 0.002275 m3). Untuk mendapatkan permukaan halus pengetaman akan memakan +/- 2-3 mm ketebalan pada setiap sisi pengetaman. Begitu pula pada sisi lebarnya. Sehingga setelah diketam menjadi ukuran 29 x 59 mm, volume kayu menjadi 0.001711 m3.

Kubikasi tersebut setelah dikonversikan terlihat menyusut sebesar 25%, artinya volume awal berkurang dan tersisa hanya 75% nya saja. Konversi ini hanya pada sisi lebar dan tebal. Mari kita lihat pada sisi panjang.

Pada balok dengan panjang 1 meter, untuk dipotong dengan halus dan rapi akan membutuhkan minimal 20 mm pada setiap sisi panjangnya, itupun jika tidak terdapat cacat mata kayu atau retak/pecah. Kita anggap satu sisi panjang berkualitas baik sehingga hanya diptong sepanjang 20 mm, dan sisi lainnya terdapat retak hingga harus dipotong sepanjang 50 mm. Setelah dipotong 20 + 50 mm pada setiap ujung, panjang balok tinggal 930 mm. Untuk itu volume akhir yang digunakan adalah 0.001711 x 93% = 0.001591 m3.

Hasil konversi akhir adalah 0.001591/0.002275 m3 = 57%

Dari 100% volume kayu awal, 43% nya telah menjadi serbuk kayu, debu dan potongan yang tidak bisa digunakan.

Yang lebih menarik lagi dengan mengetahui hal ini adalah apabila kita konversikan dari Log ke ukuran jadi.

Pada artikel sebelumnya tentang konversi log terhadap kayu gergajian adalah sekitar 58%, dan konversi dari kayu gergajian ke ukuran jadi adalah 57% (ingat, konversi tersebut akan sangat bervariatif tergantung jenis kayu, ukuran log, metode pengerjaan dan hasil akhir yang diinginkan.

1 m3 log --> 0.58 m3 kayu gergajian
1 m3 kayu gergajian --> 0.57 m3 ukuran jadi, sehingga:
1 m3 log --> 0.58 m3 kayu gergajian --> (0.58 x 0.57) = 0.33 m3.

Pada praktek pengerjaan yang sebenarnya. konversi log terhadap ukuran jadi adalah antara 20% - 35%. Sangat sulit untuk mendapatkan rendemen di atas 35%. Berikut ini beberapa contoh dan rendemen dari beberapa jenis kayu:

Jati kelas 1 (tanpa mata, tanpa putih): 20-27%
Jati kelas 2 (ada mata, tanpa putih): 25-29%
Akasia (tanpa putih): 23-28%
Keruing: 30-35%

RENCANA ANGGARAN BIAYA



FORMATUR RAB

KOPETENSI

RAB . (Rencana Angaran Biaya).
o    Pengertian RAB.
• RAB : usaha untuk merencanakan perhitungan biaya mulai dari proses sampai penentuan hingga jual produk. 
•    Langkah dalam membuat RAB.


o    1. Kebutuhan Bahan Pokok.
o    2. Kebutuhan Bahan Pendukung.
o    3. Upah tenaga kerja.
 
o    4. Biaya Produksi.
o    5. Biaya Lain-Lain (Tak Terduga).
o    6. Keuntungan.
o    7. HPP Dan Pembulatan.
TEMPAT TISU.

 1.    Komponen : bagian depan/belakang.
200 X 150 X 10 = 2 buah
20cm X 15cm X 1cm = 2 buah


o    BAG . Smping = 60 X 50 X 10 = 2 BH
o    BAG . Bawah = 200X 60 X 10 = 1 BH

Papan Meranti.
                                 Rp. 70.000
                                        +  500cm  
1.    Kebutuhan bahan pokok.
NO
Nama bahan
kebutuhan
Harga@
Jumblah
ket
1.
Papan  merante
60cm
70,000
8,400
lembar

60 cm

                                                     Jumblah    8,400    

2.    Kebutuhan bahan pendukung.
NO
NAMA BAHAN
KEB
HARGA@
JUMBLAH
KET
1.
Lem cina
1/7tb
Rp.8,000
1,150
-
2.
Kertas pasir
½ 16
Rp.1,500
750
-
3.
Politur(serbu)
½ 16
Rp.8,000
800
-
4.
Cat emas
1/10
Rp.25,000
2,500
-
5.
Kuas 1inci
1/10
Rp.2,500
2,500
-
6.
Kuas lukis no.1
1 buah
Rp.2,500
2,500
-
JUMBLAH

10,950
-


3.    Upah tenaga kerja = 35,000.,
4.    Biaya produksi = 1+2+3
      8,400+10,950+35,000 = Rp.54,350.,
5.    Biaya lain-lain = 5/100 X 54,350 = 2,720
6.    Keuntungan 25/100 X (54,350+2,720) = Rp.14,270
7.    HPP = 4+5+6 = Rp. ?
54,350+2,720+14,270 = Rp.71,340

LANGKAH-LANGKAH FINISHING


FHINISHING PRODUK





1) Pengertian
2) Tujuan
3) Jenis-Jenis Fhinishing

1) Pengertian fhinishing adalah usaha untuk menyelesaikan produk dengan melapisi pembukaan produk , dgan bahan cat (Resin)melalui tahapan-tahapan tertentu sampai memenuhi kualitas (Mutu) standar tertentu.

2) Tujuaan Fhinishing :
A. Menyempurnakan Produk
B. Kualitas Produk
C. Menambah Nilai Jual

3) Jenis-Jenis Fhinishing.
• Politur
• Tesktur
• Melamine system
• Cat Duco
• Retak Seribu
• Tehnik Mar-Mar
• Tehnik Bakar
• Tehnik Wak/Semir
• Tehnik Air Brush

1. Politur.
o Bahan : Serlak Emping + Spritur Dengan Perbandingan
10 Ons + 1 Liter Dicampur + 24 Jam Setiap Dipakai Harus Di Aduk.
o Alat : Kuas Halus
Kertas Pasiar
o Cara Kerja : Poleskan politur ke permukaan produk secara tipis merata searah serat kayu, Biarkan sampai kering, Ulagi beberapa kali sesuai keinginan.

o Contoh Produk Politur :
• Ultra Pelitur (Impra)
• Cap Boyo
• Cap Kembang/Bunga
• Cap Kuda Terbang
• DLL

2. Tekstur.
o Bahan :
• Cat Air (Tembok)
• Top Coat (impra)
• Lem Fox
• Tepung Zingkuit/Semen Putih 3 Roda
• Pasir

o Alat :
• Kuas

o Cara Kerja :
• Campurkan Tepung Zingkuit + Lem Fox
• Poleskan Kesemua Permukaan Prodok (Di Tekan)
• Warnai Dengan Warna Gelap Merata Kesemua Permukaan
• Poles Permukaan Tipis Dengan Warna Terang
• Poles / Semprot Top Coad Merata Dengan Permukaan

3. Melamine Syistem.
o Bahan :
• Wood Filer (Dempul)
• Wood Stain (Warna)
• MSS (Melamine Sending Seller) + Hardiner (Penguat Warna)
• Top Coad ( Melamine Lock Clear Gloss,Semi Dop)
• Thiner

o Alat :
• Kuas
• Kertas Pasir
• Kompresor + Spry Gan

o Cara Kerja :
• Setelah produk digosok dengan kertas pasir no 240 sampai halus.,
• Poles semua permukaan dengan wood filer , biarkan kering.,
• Gosok dengan kertas pasir no 200-240 sampai rata (nampak serat kayu).,
• Poleskan/semprotkan wood stain dengan rata ke permukaan produk,.
• Poleskan/semprotkan MSS + thiner + hardiner sampai merata ke permukaan produk.,
• Gosok dengan kertas pasiar , no 400 sampai tipis ,rata lalu dilap permukaan.,
• Poleskan/semprotkan top coad + thiner + hardiner sampai merata semua permukaannya.,
• Ulangi beberapa kali sesuai dengan di inginkan

ARAH SERAT KAYU



Serat Kayu Sesuai Arah Pembelahan

Karena bentuk fisik kayu pada dasarnya seperti tabung dan dengan adanya pengaruh garis lingkaran tahun pada penampangnya proses pembelahan log bisa menghasilkan motif serat kayu yang berbeda pula. Selain itu juga akan mempengaruhi arah penyusutan kayu tersebut.

Bahwa pada dasarnya ada 3 metode pembelahan logyang menghasilkan beberapa perbedaan besar motif serat pada permukaan kayu hasil pembelahan yang dipengaruhi juga oleh kualitas log.


A. Serat Radial

Motif permukaan kayu yang lurus lebih banyak dihasilkan pada metode penggergajian Rift Sawn y BarrioSawn. Dua metode ini lebih banyak menghasilkan limbah dan memerlukan waktu lebih lama akan tetapi hasil serat kayu yang dihasilkan lebih baik dan bernilai ekonomis lebih tinggi. Biasanya serat kayu ini digunakan untuk pembuatan meja atau pintu dengan permukaan yang lebar.


B. Serat Tangensial

Pembelahan yang melintang garis lingkaran tahun akan menghasilkan serat bermotif (kembang). Motif permukaan kayu seperti ini paling banyak dihasilkan pada metode pembelahan Plain sierra. Ini metode penggergajian kayu yang paling sering dilakukan di kebanyakan sawmill.


Hasil permukaan kayu tersebut di atas adalah sebagai hasil dasar dari hampir semua jenis kayu. Keseluruhan motif permukaan akan juga dipengaruhi oleh kualitas log dan jenis kayu pada khususnya. Untuk jenis kayu yang memiliki banyak mata kayu, serat permukaan kayu akan dihiasi mata kayu, kantong minyak atau garis-garis melintang secara radial.



Ada pula jenis kayu yang karena pada masa pertumbuhannya dan lokasi tumbuh memiliki banyak angin sehingga pohon cenderung 'melintir'. Untuk kayu seperti ini anda akan mendapatkan serat bergelombang.
Pada kenyataan proses produksi harus dilakukan pekerjaan ekstra di area pengamplasan.

Lain lagi pada perusahaan vinir untuk permukaan plywood (kayu lapis). Untuk mendapatkan serat yang lurus dan homogen, pabrik akan membelah log menggunakan metode quartersawn.

PARAFIN FINISHING









Parafin untuk Finishing Perabot Jati


Bagi anda yang pernah atau masih memiliki hobi mendaki gunung, estar muy familiarizado con istilah parafin. Material ini sejenis minyak dalam bentuk padat (bentuk fisik seperti lilin) yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak air atau penghangat di kala istirahat di tengah perjalanan mendaki gunung.
Keterangan di atas hanyalah salah satu pemakaian sehari-hari material ini. Jika anda ingin perabot kayu jati anda terjaga dari la infiltración del agua, parafin bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif bahan finishing atau pelapis akhir.

Aplikasinya cukup mudah hanya dengan menggosokkan parafin ke permukaan kayu, seperti ketika anda menggunakan sabun mandi batang. Gosokkan tersebut akan meninggalkan serbuk atau lapisan tipis di atas permukaan kayu.
Agar parafin meresap, anda bisa menggunakan alat gosok seperti pengilap cat mobil yang ujungnya dilapisi kain katun.
Gosokkan tersebut akan 'memaksa' parafin untuk masuk lebih dalam ke pori-pori kayu.
Dan semakin lama atau sering akan membuat permukaan kayu lebih mengkilat.

Jenis material finishing ini lebih murah dibandingkan dengan aceite de teca yang bisa digunakan industri furniture. Dan kelebihannya adalah bisa lebih tahan air. Sedikit berbiaya untuk membeli alat gosok, akan tetapi untuk produksi yang lebih banyak akan tergantikan dengan efisiensinya.


Bagi anda produsen furniture kayu jati, hal ini akan lebih menguntungkan anda karena efek permukaan jati menjadi lebih baik sehingga konsumen akan memilih perabot dengan jenis finishing ini ketimbang aceite de teca atau politur.

Dari sisi kesehatan lingkungan juga lebih baik karena tidak mencemari tanah maupun udara di dalam produksi sehingga pekerja tidak mengalami resiko kesehatan sebesar bahan finishing lainnya. Tentangkayu.com belum memiliki informasi penuh tentang perbandingan harga finishing parafin dibandingkan dengan lainnya di Indonesia.

Mari jadikan setiap perabot di rumah kita sehat untuk keluarga anda

POLITUR







Finishing Politur

Shellac (politur)
Shellac merupakan bahan finishing yang sangat popular dan banyak dipakai pada abad 19 sampai pada awal abad 20 ketika mulai digantikan oleh nitrocellulose dan bahan-bahan finishing yang lain. Shellac dibuat dari bahan resin alam yang dihasilkan dari suatu jenis serangga yang hidup dari tumbuhan yang ada di India. Shellac bisa menghasilkan lapisan film yang bisa berfungsi untuk melindungi permukaan kayu dibawahnya.

Di Indonesia politur ini merupakan bahan yang sangat popular sebelum pada akhirnya mulai digantikan dengan bahan finishing modern berupa pintura (coating). Pada jaman dulu shellac ini merupakan satu-satunya bahan finishing yang bisa digunakan untuk proses finishing pada kayu yang bisa menghasilkan finishing dengan warna transparan yang bisa menampilkan keindahan warna dan serat kayu. Bahkan sekarang finishing dengan warna transparan masih disebut sebagai warna politur.

Shellac banyak tersedia dalam bentuk keping-kepingan yang tipis. Untuk dapat diaplikasikan, kepingan-kepingan shellac tersebut perlu dilarutkan dalam alcohol atau etanol sampai semuanya mencair. Shellac yang berbentuk cairan ini disini dinamakan politur dan merupakan bahan finishing yang banyak digunakan untuk proses finishing pada kayu. Spiritus merupakan pelarut yang banyak dipakai untuk membuat politur di sini karena harganya yang lebih murah.
Shellac sebenarnya tersedia juga dalam bentuk cairan, tetapi biasanya cairan shellac ini tidak banyak tersedia di toko karena tidak tahan lama. Shellac akan dapat tahan lebih lama apabila disimpan dalam bentuk kepingan dan dilarutkan seperlunya saja pada saat akan digunakan.

Politur ini secara alami mempunyai warna coklat kekuning-kuningan, karena itu aplikasi dengan politur ini akan menghasilkan lapisan film yang berwarna coklat kekuningan. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi warna finishing akhir yang dihasilkan. Warna finishing yang dihasilkan akan merupakan hasil dari perpaduan antara warna coklat kekuningan dari lapisan politur dengan warna dasar kayu di bawahnya. Warna finishing akhir yang dihasilkan dari politur akan menjadi semakin kuning apabila lapisan politur yang diaplikasikan semakin tebal.

Apabila diinginkan politur dengan warna yang lebih kuat maka bisa ditambahkan pigmen warna ke dalam larutannya. Oker merupakan pigmen yang sering ditambahkan ke dalam campuran politur karena bahan ini realtif murah dan mudah didapat. Penambahan warna sebaiknya jangan terlalu banyak. Karena apabila terlalu banyak pigmen didalam campuran akan dapat mengurangi kekuatan politur. Total pigmen yang ditambahkan ke dalam campuran sebaiknya tidak boleh lebih dari 10% dari total campuran. Untuk finishing dengan warna yang lebih tua maka sebaiknya aplikasi politur ini dikombinasikan dengan stain. Lakukan aplikasi stain pada kayu mentah sesuai dengan warna yang diinginkan, (gunakan prinsip segitiga warnauntuk pemilihan dan pencampuran stain) tunggu kering kemudian baru lakukan aplikasi politur di atasnya sampai diperoleh ketebalan yang diinginkan.

Aplikasi politur
Politur biasanya diaplikasikan dengan cara dioleskan atau dikuaskan ke permukaan, meskipun cara spray juga bisa dilakukan untuk bahan ini. Celupkan kain ke dalam campuran politur kemudian kain ini diusapkan atau dioleskan ke permukaan kayu sampai merata.
Tunggu sampai lapisan politur ini kering, kemudian lakukan pengolesan lagi dengan politur ini sampai diperoleh ketebalan yang diinginkan. Untuk memperoleh permukaan yang lebih rata dan halus maka sebaiknya dilakukan pengamplasan di antara pengolesan politur ini. Jadi suatu permukaan politur yang sudah kering diamplas dulu sampai halus dan rata baru dilapisi dengan politur lagi diatasnya. Sebaiknya gunakan amplas putih (stearated sandpaper) dengan grade 400 atau 360 untuk memperoleh permukaan yang halus dengan lebih cepat.

Politur ini bisa juga diaplikasikan dengan menggunakan kuas, tetapi permukaan kuas yang relatif kasar akan meninggalkan garis-garis kuas pada permukaan film yang dihasilkan. Sebenarnya ada kuas khusus dengan kepala yang halus seperti kain yang bisa digunakan untuk aplikasi politur dengan hasil permukaaan yang halus dan rata, tetapi kuas ini agak sulit didapatkan di sini

PROSES FINISHING


Lebih Lanjut tentang Finishing Kayu

Furniture Finishing
Proses finishing adalah pekerjaan tahap akhir dari suatu proses pembuatan produk mebel. Pada saat ini proses finishing lebih dikenal sebagai proses de aplicación de pintura. Hal yang sangat wajar karena saat ini sebagian besar proses finishing dilakukan dan dikerjakan dengan menggunakan cat (coating) sebagai bahan finishing. Sebenarnya furniture finishing mempunyai cakupan yang lebih luas. Ada banyak proses finishing untuk mebel yang dikerjakan dengan menggunakan bahan-bahan que la pintura, dan ada banyak proses-proses pekerjaan lain yang bukan merupakan pengecatan tetapi juga merupakan proses finishing. Proses finishing untuk mebel bisa berupa: pengamplasan, pengecatan, pemolesan, penggosokan dan pengerjaan–pengerjaan yang lain yang diperlukan.

Bagaimana proses finishing dikerjakan sangat tergantung pada penampilan akhir dan kualitas finishing yang diinginkan. Beberapa produk mebel menghendaki suatu finishing yang kompleks yang akan membutuhkan pelapisan bahan finishing yang berulang kali dengan bahan-bahan finishing khusus dan bahkan membutuhkan alat-alat khusus untuk aplikasinya. Sedangkan produk-produk mebel yang lain cukup dengan finishing yang “simple”, hanya membutuhkan lapisan bahan finishing yang tipis dan dapat diaplikasikan dengan cara yang sederhana atau bahkan ada produk mebel yang cukup diamplas atau dipolish saja tanpa menggunakan bahan finishing sama sekali.

Finishing merupakan proses yang akan membentuk penampilan dari suatu produk mebel. Finishing dapat membuat suatu mebel menjadi kelihatan bersih, halus, rata seperti barang yang baru, finishing dapat juga membuat suatu mebel kelihatan kotor, antik, kuno seperti barang yang sudah berusia ratusan tahun, finishing dapat membuat permukaan mebel menjadi rata atau permukaan mebel menjadi tidak rata , bertekstur, dan retak-retak, finishing dapat dibuat dengan lapisan film yang tipis sekali atau lapisan film yang tebal sekali. Jadi finishing mempunyai variasi yang sangat banyak, dari yang paling sederhana dengan alat-alat dan bahan-bahan yang sederhana sampai dengan yang paling kompleks yang membutuhkaan alat-alat dan bahan-bahan finishing yang khusus. Demikian juga dengan bahan-bahan finishing terdiri dari banyak jenis dan macamnya mulai dari yang bahan-bahan yang murah sampai bahan-bahan yang mahal yang membutuhkan alat-alat khusus untuk aplikasinya.

Wood finishing
Wood finishing adalah proses pengecatan pada kayu atau produk olahan kayu. Wood finishing merupakan istilah yang sangat dekat dengan furniture finishing. Seringkali saat kita menyebutkan istilah wood finishing yang tergambar di dalam otak kita adalah furniture finishing dan sebaliknya. Hal yang sangat masuk akal karena dari dulu saat manusia mengenal mebel sampai sekarang, kayu merupakan bahan baku utama untuk membuat mebel. High Muebles de gama yang membutuhkan finishing yang bagus dan membutuhkan sentuhan seni hampir semuanya dibuat dari kayu atau produk olahannya. Meskipun saat ini telah banyak juga produk mebel yang dibuat dari bahan baku selain kayu misalnya seperti rotan, plastik, logam atau bahkan resin, tetapi pengetahuan dan keahlian finishing untuk kayu masih merupakan dasar utama yang sangat penting untuk bisa menguasai dan mendalami furniture finishing.

Sebenarnya ada juga proses yang merupakan wood finishing yang bukan furniture finishing karena kayu banyak juga dipakai untuk bahan baku membuat produk-produk selain furniture product, seperti flooring parquet, paredes techos, decking, dan lain-lainnya. Proses finishing untuk kayu untuk produk-produk tersebut secara teknik sangat mirip dengan dengan prinsip-prinsip untuk proses finishing mebel yang terbuat dari kayu, kecuali bahwa untuk furniture finishing selain kemampuan yang menyangkut teknik juga dibutuhkan sentuhan seni. Yang harus selalu diingat adalah bahwa kayu merupakan produk alam yang sangat unik, maka pengetahuan mengenai jenis-jenis kayu dan sifat-sifatnya merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari wood finishing dan juga furniture finishing.

Fungsi yang harus dipenuhi oleh furniture finishing
Finishing pada mebel harus dapat memenuhi 2 fungsi, yaitu fungsi keindahan dan fungsi perlindungan. Yang dimaksud dengan fungsi keindahan adalah bahwa suatu finishing harus dapat membuat suatu produk mebel menjadi indah dan menarik bagi orang yang mau memakainya, sedangkan yang dimaksud dengan fungsi perlindungan adalah bahwa suatu finishing yang dari suatu produk mebel harus dapat memberikan perlindungan sehingga mebel tersebut dapat menjalankan fungsinya sebagai perlengkapan dalam suatu rumah atau ruangan..

Fungsi perlindungan dari finishing
Pada jaman dulu saat pertama kali orang mengenal finishing untuk furniture, fungsi utamanya adalah untuk bisa memberikan perlindungan sehingga produk mebel tersebut dapat bisa digunakan lebih lama. Sampai sekarang tentu saja furniture finishing masih tetap diharapkan untuk dapat memberikan perlindungan yang cukup. Furniture finishing harus cukup kuat sehingga produk furniture itu dapat menjalankan fungsinya sebagai alat-alat untuk rumah tangga. Kekuatan yang diharapkan oleh suatu produk furniture sangat tergantung dari kegunaan dari produk tersebut. Misalnya suatu finishing untuk produk outdoor furniture diharapkan dapat tahan terhadap cuaca udara luar seperti: panas, dingin, hujan. Finishing untuk indoor furniture seperti: bed sala de set harus bisa membuat produk mebel itu dapat dibersihkan dengan mudah dan bisa digunakan tanpa mengotori pakaian atau benda yang diletakkan diatasnya.

Suatu finishing untuk mueble de cocina atau dinning set harus cukup kuat dan mudah dibersihkan kalau kena kotoran seperti saus kecap, minyak atau makanan-makanan yang lain. Finishing untuk suatu los niñosfurniture atau toys tentu saja harus aman dan bebas racun sehingga tidak mengganggu kesehatan anak-anak yang memakainya.

Fungsi keindahan dari finishing
Pada perkembangan berikutnya ternyata finishing juga berfungsi untuk memberikan keindahan pada suatu produk mebel. Semakin berkembangnya dan maju suatu peradaban maka kebutuhan terhadap nilai keindahan dan seni ini menjadi semakin penting. Suatu produk mebel sekarang ini tidak hanya dilihat dari fungsinya saja, tetapi semakin lama semakin dibutuhkan untuk dapat memenuhi selera dari pemakainya. Fungsi estetika dari finishing ini pada saat ini menjadi semakin diperlukan bagi suatu produk furniture. Pada saat ini dimana teknologi dan informasi mengenai pembuatan mebel sudah menyebar dan dikuasai oleh sebagian besar pelaku industri mebel, maka fungsi suatu produk mebel hampir sudah dapat dipenuhi oleh semua produk mebel yang ditawarkan ke pasar. Pada kondisi ini maka kunci untuk menarik pembeli adalah dengan memberikan design dan model yang bisa menarik dan cocok los gustos del pembeli.

Karena itulah maka saat ini telah berkembang berbagai macam model dan desain produk mebel seperti: model klasik, model antic, model kontemporer, model minimalis dan lain-lain. Untuk melengkapi desain mebel tersebut maka suatu produk mebel membutuhkan suatu penampilan finishing yang sesuai dengan model-model tersebut. Pada saat ini maka saat ini telah berkembang berbagai macam model finishing menyesuaikan dengan perkembangan model mebel tersebut misalnya finishing gaya antik, finishing gaya klasik, simple acabado, acabado natural, dan lain-lainnya. Sebagai departemen terakhir dalam proses pembuatan mebel maka proses finishing harus bisa menyesuaikan dengan model mebel yang sudah ada untuk bisa menghasilkan suatu produk mebel yang menarik dan disukai oleh banyak orang yang akan membelinya.

METODE FHINISING



Metode Aplikasi Finishing - Wiping

Metode ini paling efektif digunakan untuk jenis bahan finishing politur. Sebagai metode finishing paling sederhana dan mudah, wiping cukup membutuhkan selembar kain katun (sebaiknya berwarna putih).

Media aplikasi harus telah diamplas halus dan tidak ada lubang yang terbuka. Biasanya aplikasi ini dilakukan setelah pewarnaan (apabila menghendaki terdapat warna pada benda kerja) atau setelah metode pencelupan.

Pada proses setelah pewarnaan, wiping dilakukan lebih untuk melapiskan bahan finishing sedikit demi sedikit sekaligus menampilkan ketajaman serat kayu. Jumlah pelapisan ini tidak ada standar, hanya lebih difokuskan pada hasil akhirnya. Semakin halus serat kayu, semakin cepat pula proses bisa diselesaikan.

Proses wiping yang lainnya adalah hanya sebagai proses lanjutan dari metode celup. Wiping pada proses ini lebih ditujukan untuk membersihkan larutan bahan finishing pada benda kerja setelah direndam sehingga bersih dan merata.

Temperatur Udara
Proses finishing dengan metode wiping untuk politur sebaiknya dilakukan pada saat cuaca panas dan kaya akan cahaya matahari sehingga proses penguapan bahan finishing bisa lebih cepat. Pada bahan politur hal ini akan membantu menambah tingkat kekilapan permukaan kayu yang difinishing.
Namun sebaliknya dengan wiping yang berfungis membersihkan larutan finishing setelah pencelupan. Sebaiknya tidak dilakukan langsung di bawah sinar matahari karena akan mempercepat pengeringan dan mempengaruhi efisiensi bahan baku finishing.

Kelebihan Wiping:
- Tidak membutuhkan peralatan kerja dengan teknologi tinggi yang berarti berbiaya rendah dibandingkan dengan metode yang lain.
- Mudah dan cepat karena bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa membutuhkan tingkat kecakapan yang tinggi, Kalaupun diperlukan, pelatihan untuk mereka yang akan melakukan proses ini akan cukup singkat.
- Hasil akhir bernilai artistik tinggi.
- Membantu menghemat pemakaian bahan finishing oil (untuk wiping lanjutan) karena bahan finishing tidak terbuang percuma.

Kekurangan Wiping
- Pada sudut-sudut kecil benda kerja tidak bisa terjangkau dengan tangan sehingga biasanya akan terlihat tipis pada bagian tersebut.
- Sulit mendapatkan hasil akhir yang seragam karena pengaruh jumlah lapisan, suhu udara dan kecakapan/pengalaman aplikator.
- Pada bidang kerja yang lebar akan sulit mendapatkan hasil permukaan yang sama dan rata. Akan selalu terdapat 'gelombang' dari hasil goresan tangan.
- Dari aspek kesehatan dan lingkungan, metode ini sangat tidak baik bagi aplikator karena kontak langsung terhadap bahan finishing baik melalui pernafasan, kulit atau mata. Terutama apabila tidak menggunakan alat pelingung pribadi (sarung tangan, masker dll).
- Tidak cocok untuk digunakan pada produksi masal dengan batas waktu produksi yang terbatas.

Saat ini metode wiping sebagai proses lanjutan masih banyak digunakan di beberapa pabrik produsen furniture outdoor. Hal ini sesuai dengan jenis bahan finishing yang mereka gunakan, rata-rata masih menggunakan bahan oil yang menuntut proses wiping pada lapisan dasarnya.

MENGETAHUI TENTANG SKRUP ATAU PAKU


Sekrup atau Paku?

Kapan dan di mana saat yang tepat untuk menggunakan paku atau sekrup? Kedua jenis alat pengikat ini memiliki fungsi yang hampir sama dengan kelebihan masing-masing dalam proses pembuatan perabot kayu. Secara praktis kebanyakan kita sudah mengerti dan bisa dengan cepat menentukan paku atau sekrup. Sebaiknya kini bisa dideskripsikan dengan jelas tentang alasan-alasan tersebut.

Sekrup
Bentuk ulir pada batangnya berfungsi untuk membentuk ikatan yang lebih kuat pada kayu. Untuk hasil terbaik, kayu induk harus dilubangi dengan ukuran sebesar diameter inti sekrup dan kayu tambahandilubangi sebesar ukuran diameter sekrup bagian luar.
Dengan adanya ulir tersebut, aplikasi sekrup membutuhkan waktu lebih lama daripada paku. yang harus diperhatikan pada aplikasi sekrup adalah lubang obeng kepala sekrup. Kepala sektup harus tetap utuh dan baik sehingga bisa dipakai pada waktu membuka atau menutup sekrup kembali.

Paku
Hanya terdapat guratan pada leher paku dan penampang kepala paku. Guratan pada kepala paku berfungsi agar martil tidak tergelincir pada waktu memasukkan paku dan guratan pada leher paku berfungsi untuk menambah daya ikat paku ke dalam kayu setelah seluruh badan paku terbenam.
Aplikasi paku jauh lebih cepat daripada sekrup dengan daya ikat yang lebih rendah. Dan dengan alat bantu tangan saat ini, dalam hitungan detik kita bisa membenamkan beberapa paku sekaligus. Tidak perlu dibuat lubang 'pre-drilling' karena paku lebih mudah dibenamkan.
Kekurangan paku berada pada daya ikatnya terhadap kayu. Ketika terjadi penyusutan kayu, ikatan antara paku dan kayu menjadi berkurang. Selain itu paku jarang bisa digunakan kembali ketika dicabut dari kayu karena bengkok atau permukaan kepala paku mnjadi lebih licin. Hal ini tidak terjadi pada sekrup.

Untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan kecepatan dan pekerjaan tersebut tidak akan ada perubahan, maka paku adalah alat pengikat yang paling tepat. Atau sebagai alat pengikat sementara, paku bekerja sangat baik dan praktis.
Jika anda membutuhkan konstruksi yang membutuhkan daya ikat lebih baik maka sekrup adalah pilihan yang lebih baik daripada paku dengan konsekuensi waktu lebih lama. Kerapihan hasil kerja bisa dibilang sama karena jika melihat dari lubang yang dihasilkan paku justru lebih kecil dan lebih mudah ditutupi dengan wood filler

MENGETAHUI TENTANG KEPALA SEKRUP


Jenis Kepala Sekrup Kayu

Kepala sekrup memiliki beberapa jenis sesuai dengan kebutuhan dan lokasi pemakaiannya. Gambar yang terlihat di sini hanya sebagian kecil saja yang banyak terdapat di pasaran. Sebenarnya masih banyak sekali jenisnya yang lebih detail.
Tidak perlu memahami secara detail seluruh jenis sekrup, kita cukup melihat dan mengerti beberapa jenis yang akan sering ditemui pada alat perlengkapan furniture (engsel, kunci, dan hardware lainnya).

Sekrup a - d
Biasanya digunakan untuk memasang engsel, plat pembantu atau bahan material selain kayu. Bagian yang masuk kayu hanya diameter intinya saja karena kepala sekrup pada jenis ini benar-benar berfungsi penuh untuk menahan bahan lain tetap terikat pada kayu.

Karena penggunaannya si luar permukaan maka finishing akhir kepala sekrup jenis ini biasanya halus dan menggunakan lubang untuk konfigurasi obeng Phillips® atau Pozidriv®.
Apabila anda ingin tetap menggunakan kepala sekrup jenis ini sebaiknya tambahkan ring tipis di antara kepala sekrup dan benda kerja.

Sekrup e
Bentuk kepala bersudut miring untuk kemudahan kepala sekrup memasuki kayu. Pemasangan sebaiknya kepala sekrup minimal sama rata dengan permukaan kayu atau lebih dalam. Performa paling efisien adalah apabila lubang sekrup pada kayu juga mengikuti bentuk kepala sekrup sehingga tekanan dan ikatan yang dihasilkan lebih kencang. Tersedia mata bor khusus untuk membuat lubang sekrup seperti ini, yang disebut mata bor countersink. (lihat gambar).

Bentuk kepala sekrup miring paling sering digunakan pada perabot kayu. Untuk pemasangan komponen, alat perlengkapan ataupun penahan dudukan sementara. Pada beberapa aplikasi kadang-kadang tukang kayu hanya membuat satu lubang tanpa kemiringan., Ketika sekrup ditekan masuk ke dalam kayu, tekanan tersebut mampu membuat kepala sekrup rata dengan permukaan. Bahkan bisa lebih dalam apabila kayu lunak.

Jenis sekrup kepala miring terbuat dari beberapa jenis logam sesuai dengan pemakaiannya. Untuk pemasangan perlengkapan perabot digunakan sekrup dengan finishing yang lebih baik.


Sekrup f
Hampir sama fungsi dan penempatannya dengan sekrup e. Sekrup f ini memiliki kelebihan pada bentuk atas kepala 'tembereng', permukaan halus dan harus berada di atas permukaan kayu. Sekrup ini biasanya digunakan untuk konstruksi luar perabot dengan memperhatikan efek estetika.